This is about nature



Pengaruh Parasitasi Hama pada Pertumbuhan Tanaman Padi Indonesia

 

Indonesia bumi yang kita pijaki ini adalah kekayaan alam yang sungguh luar biasa. Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang memberi mutiara kehidupan bagi para penghuni alam semesta.  Bukan kerusakan yang diinginkan bumi ini, namun tangan baik yang dapat menyelamatkan para penghuni bumi. Sebagai manusia apa yang dapat kita lakukan? Berjalan tanpa batas dengan membwa luka? ataukah berjalan tanpa batas dengan mengibarkan kemanangan Sang Saka?

Ekosistem alam yang semakin hari semakin buruk telah kita rasakan saat ini. Berbagai dampak penggunanaan berbagai produk non alamiah yang tidak efektif  mempengaruhi proses pertumbuhan tanaman. Selain itu munculnya organisme pengganggu lingkungan dan pertumbuhan tanaman padi juga semakin merajalela. Berkembangnya hama tanaman di lingkungan budidaya seperti kebun atau sawah merupakan contoh dari gejala alam biotik (alami). Keadaan itu timbul akibat beberapa faktor. 

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti : 

1. Karena terbunuhnya musuh alami hama
Seperti yang kita tahu,bahwa zaman sekarang hewan-hewan sering diburu oleh para manusia, mereka dapat dimanfaatkan sebagai hewan peliharaan, sebagai obat alami, sebagai barang-barang pribadi, dan sebagainya. Ular yang biasanya memburu tikus di sawah semakin hari semakin langka keberadaanya. Hal itu terjadi karena manusia banyak yang menangkap ular untuk memenuhi kebutuhannya, mereka memanfatkan ular untuk dijual atau dijadikan sebagai makanan / obat-obatan. Jika keberadaan ular semakin sedikit, maka yang biasanya memangsa hama-hama tanaman padi seperti tikus tidak ada. Lalu hal tersebut berdampak pada ketidak seimbangan rantai makanan di alam. Yang semula padi dimakan tikus, ular dimakan elang, elang mati diuraikan oleh dekomposer tidak dapat berlangsung secara teratur. Karena ular banyak diburu oleh manusia, maka ular semakin punah, selanjutnya elang yang memangsa ular akan kekurangan makanannya,dan akan mati. Namun keberadaan tikus akan semakin melimpah, dan tikus akan dengan sesuka hati memakan padi-padi di sawah.

2. Terjadinya anomali musim (keganjilan musim)
Anomali musim atau cuaca saat ini sudah sering terjadi. Hal itu bisa disebabkan oleh adanya hujan di musim kemarau sehingga kelembaban udara dan temperatur menjadi kondisi yang optimal untuk perkembangan populasi wereng cokelat. Wereng cokelat yang biasanya menyerang tanaman padi memiliki biological clock (mampu berkembang biak dimusim hujan maupun kemarau). Karena tidak hanya udara yang lembab saja, musim kemarau panjang atau cuaca ekstrim yang disebabkan pengaruh efek rumah kaca yang semakin marak terjadi juga mempengaruhi proses berkembang biaknya wereng cokelat. Perkembangan wereng cokelat bersifat strategis dan cepat menemukan habitat baru sebelum habitat lama berkatrastopi / berubah secara mendadak, dan wereng juga bisa berkembang dengan adanya iklim La Nina. Fenomena La Nina itu sendiri merupakan kebalikan dari El Nino, yaitu gejala menurunnya suhu permukaan Samudera Pasifik, yang menyebabkan angin serta awan hujan ke Australia dan Asia bagian Selatatan, termasuk Indonesia. Akibatnya, curah hujan tinggi disertai dengan angin topan dan berdampak pada terjadinya bencana-bencana seperti banjir ataupun longsor.

3. Adanya perubahan biotipe wereng coklat
Ledakan wereng coklat pada areal yang luas didahului oleh perubahan biotipe karena adanya adaptasi yang berkepanjangan. Biasanya perubahan biotipe itu dicirikan oleh patahnya gen ketahanan varietas yang sebelumnya tahan dan menjadi rentan terhadap wereng coklat. Pengertian dari biotipe itu sendiri merupakan suatu populasi atau individu lain, bukan karena sifat morfologi, tetapi didasarkan pada kemampuan adaptasi, perkembangan pada tanaman inang tertentu, daya tarik untuk makan, dan meletakkan telur (Baehaki, 2010).
Terjadinya perubahan biotipe dapat disebabkan oleh beberapa hal yang menyangkut hubungan antar wereng coklat dan tanaman inang yang salah urus dalam pengelolaan tanamanpadi. Perubahan biotipe pada wereng coklat tidak disebabkan oleh insektisida, karena insektisida hanya bisa mengakibatkan resistensi dan resurgensi. Sebab telah dijelaskan pula bahwa perkembangbiakan wereng coklat diakibatkan oleh penanaman padi secara terus menerus, dengan menggunakan varietas yang sama yang mempunyai gen tahan tunggal. Dan pada kenyataannya para petani sekarang ini, jika mereka sudah menyukai dengan satu varietas, maka mereka akan menanam varietas tanaman tersebut secara terus-menerus. Sehingga jika hal tersebut tidak diatasi maka perkembangbiakan wereng coklat semakin meningkat.

Dari berbagai faktor perkembangan hama di atas sangat berdampak terhadap lingkungan alam, sebab kondisi alam yang sudah tidak stabil maka semakin lama akan rusak. Untuk bisa mengetahui apakah fenomena alam seperti La Nina atau El Nino terjadi, maka kita harus mengetahui ilmu apa yang bisa mengatasinya, sehingga berbagai dampak buruk terhadap alam bisa ditangani. Karena La Nina bisa mempengaruhi perkembangan hama seperti wereng cokelat. Oleh karena itu kita membutuhkan ilmu klimatologi, yang mana ilmu tersebut menjelaskan tentang sifat-sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat bumi itu berbeda, bagaimana kaitan iklim tersebut dengan segala aktivitas manusia, dan apakah iklim tersebut berdampak serius dengan keadaan alam.. Klimatologi memerlukan interpretasi dari data-data yang banyak sehingga memerlukan statistika dalam pengerjaannya, orang-orang sering juga mengatakan klimatologi sebagai meteorologi statistik (Tjasyono, 2004)

Pengaruh buruk adanya hama dapat menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Contohnya adalah organisme yang menjadi vektor penyakit bagi manusia, seperti tikus dan lalat yang membawa berbagai wabah atau nyamuk yang menjadi vektor malaria. Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan kedalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabbkan kerugian pada pertanian. Dampak yang timbul akibat serangan hama dan penyakit menyebabkan kerugian baik terhadap nilai ekonomi produksi, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta petani sebagai pelaku budidaya tanaman dengan kegagalan panen serta turunnya kualitas dan kuantita hasil panen. Hal ini disebabkan karena adanya persaingan perebutan unsur hara dan mineral, air, cahaya matahari, proses fisiologi tanaman, pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang terhambat akibat hama dan penyakit.

Selain berdampak pada tanaman budidaya, serangan hama dan penyakit juga berdampak terhadap agroekosistem pertanian. Kerugian-kerugian tersebut, disebabkan oleh adanya pemikiran para pembudidaya tanaman untuk mengendalikan serta memusnahkan hama dan penyakit yang menyerang tanaman. Para pembudidaya tersebut melakukan sesuatu hal yang dapat dikerjakannya untuk mengasilkan sesuatu. Mereka melakukan sebuah permainan cerdas yang dapat mengurangi keberadaan hama tanaman. Tetapi seringkali mereka lupa dengan kondisi alam atau tanaman sekitarnya. Bahkan seorang filsuf menyebutkan bahwa manusia adalah homo ludens, yaitu manusia yang bermain, karena permainan pun merupakan pembentukan budaya pula (Djoko Widagdho, 1990).

Pengendalian hama dan penyakit tidak sesuai dan tepat tersebut memberikan dampak kerugian yang lebih besar daripada serangan hama dan penyakit itu sendiri terhadap tanaman.
Adapun dampak kerugian akibat serangan hama terhadap serangga hama pada tanaman tersebut adalah :
1. Gagal panen
Akibat serangan hama yang  paling ditakuti oleh para petani adalah terjadinya gagal panen. Kegagalan ini dikarenakan hama yang menyerang tanaman menjadikan tanaman sebagai bahan makanan, dan tempat tinggal bagi mereka.
2. Menurunnya jumlah produksi tanaman
Dengan serangan yang dilakukan oleh hama pada tanaman maka tanaman tidak akan mampu menghasilkan produksi secara maksimal karena terjadinya pembatasan pertumbuhan akibat hama yang berada pada tanaman budidaya. Hal ini disebabkan karena proses fisiologi tanaman yang terganggu. Dengan daun dan batang serta tunas-tunas muda yang habis dimakan oleh hama secara tidak langsung tanaman tidak dapat melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan produksi dengan baik bahkan tidak dapat melakukan fotosintesis.
3. Pertumbuhan tanaman yang terganggu
Serangan hama dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat dan bahkan tidak jarang mengalami stagnan pertumbuhan atau kerdil. Contohnya serangan hama wereng pada tanaman padi yang dapat mengakibatkan tanaman padi menjadi kerdil dan tidak dapat diproduksi.
4. Menurunkan nilai ekonomis hasil produksi
Hama yang menyerang pada buah atau bagian tanaman-tanaman yang memiliki nilai ekonomis akan menjadi menurun. Hal ini disebakan, hama merusak bagian-bagian buah maupun daun tanaman. Dimana penurunan ini karena adanya bagaian yang diserang oleh hama mengalami cacat dan busuk serta mengandung ulat atau larva-larva hama. Sehingga produksi tidak dapat dikonsumsi.
5. Degradasi Agroekosistem 
Degradasi ekosistem terjadi karena adanya usaha yang dilakukan oleh para petani dalam penanggulangan serangan hama yang tidak memikirkan dampak negatif terhadap lingkungan serta komponen-komponen penyusun agroekosistem. Pencemaran lingkungan tersebut karena adanya zat-zat yang yang berbahaya akibat digunakannya pestisida. Dengan adanya penanggulangan serangan hama yang tidak sesuai ini menyebabkan terjadinya degradasi ekosistem alami.
6. Munculnya resistensi dan returgensi hama
Dengan penanggulangan serangan hama yang tidak sesuai akan menyebabkan resistensi atau kekebalan hama terhadap pestisida dan returgensi atau ledakan jumlah populasi hama yang berakibat pada dampak kerugian yang lebih komplek dalam usaha budidaya tanaman itu sendiri.

Hard / Soft Teknologi dalam Mengatasi Hama Tanaman Padi 
Semakin meluasnya hama pada ekosistem sawah, maka berbagai upaya dilakukan oleh berbagai pihak baik itu dari pemerintah ataupun dari para petani. Banyak dari para petani tersebut bertempat tinggal di lingkungan pedesaan, jadi ketika ada kerusakan terhadap ekosistem sawahnya mereka harus benar-benar tahu bagaimana cara mengatsinya. Meskipun apa yang dilakukannya tidak sebaik dengan usaha pemerintah yang notabene menggunakan teknologi yang lebih canggih. Menurut Sutardjo Kartohadikusumo, desa merupakan suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal   suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri (Hartomo & Arnicun Aziz, 1990)

Sejalan dengan perkembanagan pengetahuan dan teknologi, maka upaya penerapan pengendalian hama secara terpadu diharapkan semakin baik, meluas, dan dapat diketahui serta diterapkan oleh masyarakat. Teknologi tersebut selanjutnya berkembang menjadi teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Teknologi tersebut harus dapat disebarluaskan melalui komunikasi pembangunan karena teknologi pengendalian hama terpadu merupakan salah satu teknologi yang dapat menjamin produktivitas nilai ekonomi usaha para petani dan dapat mempertahankan kelestarian ekosistem. 

Hal-hal yang dapat dilakukan dalam upaya pengedalian hama terpadu (PHT) antara lain :
a.) Pembuatan penyakit tumbuhan secara hayati
Usaha tersebut dilakukan karena lebih selektif (tidak merusak organisme yang berguna) dan manusia lebih memiliki wawasan tentang lingkungan. Pengendalian hayati berupaya memanfaatkan mikroorganisme hayati dan proses-proses alami. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan memanipulasi inang, lingkungan atau musuh alami itu sendiri.
b.) Pemasangan perangkap telur keong mas secara berkala
Tujuan dari pengendalian ini yaitu untuk menekan populasi hama sekecil mungkin ataupun penekananan sampai di bawah batas ambang kerusakan ekonomi. Lalu, teknologi yang digunakan yaitu dengan menggunakan tiang-tiang perangkap telur dan dan pemungutan hama secara berkala (3 kali seminggu) sampai umur padi 4 minggu setelah proses tanam. Tiang yang digunakan bisa terbuat dari kayu, bambu, atau ranting-ranting kayu.Jumlah dari tiang kayu tidak terbatas, sehingga makin banyak tiang perangkap telur dipasang, maka diharapkan makin banyak pula kelompok telur yang diletakkan. Telur-telur yang sudah terperangkap dibuang secara berkala, dengan cara melepaskannya dari tiang perangkap dan selanjutnya dibenamkan ke dalam air atau lumpur.
c.) Alat pengusir hama burung
Alat ini dibuat dengan memakai baterai berupa accu/aki dengan tegangan output sebesar 12 volt, motor DC sebagai sistem penggerak utama. Alat ini bekerja secara mekanik dimana motor DC yang berputar akan menggerakkan tali yang terhubung dengan pengusir burung yang berupa plastik dan kaleng-kaleng bekas yang sudah tersedia sebagai pengusir hama burung.

Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai prinsip dan pedoman penanganan kerusakan ekosistem 
Ketika kita memiliki upaya untuk menangani kerusakan ekositem, kita sebagai makhluk Allah yang baik tidak boleh sembarangan dalam bertindak. Meskipun niat kita untuk mencegah atau mengatasi kerusakan akibat makhluk ciptaan Allah yang lain (organisme), maka kita tetap harus mengingat pedoman dan prinsip-prinsip agar ketika bertindak tidak keliru. Dan agar lingkungan di sekitar kerusakan tidak ikut rusak pula.

Seperti yang telah tercantum pada ayat Al-Qur’an yaitu QS.Ar-Rum : 41-42 tentang larangan membuat kerusakan di muka bumi.
Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah : Adakanlah perjalan di muka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. Ar-Rum : 41-42).
Sedangkan hadis yang menerangkan untuk senatiasa menjaga lingkungan dan saling toleransi dengan makhluk ciptaan Allah yang lain, yaitu :
Dari Jabir bin Abdullah r.a dia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW : “Tidaklah seorang muslim menananm tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Imam Muslim).

Dari ayat Al-Qur’an maupun hadis di atas menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan untuk melakukan kegiatan bercocok tanam dengan baik, tidak boleh melakukan kerusakan lingkungan. Karena bercocok tanam terdapat 2 manfaat yaitu manfaat dunia dan manfaat agama (Syaikh Utsaimaini, 1996)


Komentar

Foto saya
Ana Mu'awanah
Hi beauties! Namaku Mu'awanah, orang-orang sering memanggilku Ana / Mumuk juga boleh ☺️ Aku mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kabupaten Kudus, yaitu IAIN Kudus. Banyak hal yang aku sukai, salah satunya yaitu tentang "Beauty dan Fashion". Semoga apa yang aku aku sampaikan di blog ini bermanfaat yah! ❤️ Thanks for reading